Selamat Datang di blog IKAHI DIY

Selamat Datang di blog Ikatan Hakim Indonesia Derah Istimewa Yogyakarta (IKAHI DIY)
Blog ini merupakan forum silaturahmi para anggota IKAHI DIY yang menghadirkan berbagai kegiatan dan dokumentasi kegiatan anggota IKAHI DIY beserta berbagai analisa dan artikel hukum serta hasil tulisan beberapa anggota IKAHI DIY. Seluruh artikel dan penelitian hukum berikut diperbolehkan untuk dikutip maupun didistribusikan kepada publik guna tujuan pendidikan, penelitian ilmiah, kritisisasi dan review penulisan dengan catatan tetap mencantumkan nama penulis atau peneliti yang bersangkutan. Blog ini dibuat agar seluruh anggota baik pengurus maupun non pengurus bisa memantau segala kegiatan atau informasi dari IKAHI DIY secara online. Semoga Bermanfaat.

Minggu, 26 Juni 2011

Hakim se DIY belajar di Jogja Orangutan Center


Begitu masuk di gerbang Jogja Orangutan Centre, yang dikelola Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta, ikahi telah disambut oleh patung orangutan tinggi, besar, hitam tapi dengan senyuman ramah,  saya senang atas  kehadiran ikahi DIY, bisa melihat saya yang kata Darwin orangutan dulu mbah dan eyang manusia, kita satu rumpun, kasihanilah dan lepaskan ke habitat saya " Memang unik Ukahi Cabang Wates mengundang IKAHI DIY untuk mengunjungi tempat konservasi satwa , yang dimotori ibu Gusti Pembayun yang putri Gubenur DIY, Ngarsa dalem Sri Sultan Hamengku Buwono ke X, suatu perbuatan yang mulia dalam rangka melestarikan satwa baik dari jenis primata maupun burung.


Para hakim sangat heran dan geli, karena begitu mendatangi satwa beruk, satwa tersebut menyampaikan selamat datang dengan cara dan gayanya sendiri, yakni dengan membelakangi para hakim dan menunjukkan pantatnya. Tetapi tidak ada satupun hakim yang tersinggung, apalagi mengumpat dan mencacinya.


Satwa-satwa dan burung-burung yang dilindungi yang disini, merupakan titipan dari sitaan, demikian  penjelasan mbak Rosa,  humas Jogja Orangutan Centre, rosa melanjutkan yang ada disini  dari jenis primata yakni Orangutan nama latinnya Pongo pygmaeus, memiliki ciri-ciri mirip manusia, tinggi tubuh sampai 137 cm dan berat sampai 90 kg. orangutan jantan memiliki gelambir pipi pada kedua bagianh muka. Orangutan biasanya hidup dalam kelompok kecil, sedangkan jantan dewasa biasanya berkelana sendiri. Satwa ini hidup di atas pohon, jarang turun di atas tanah. Di habitat aslinya satwa ini memakan buah-buahan, bunga-bungaan, dedaunan, kulit pohon, dan akr-akaran dari berbagai jenid tumbuhan. Di yayasan konservasi alam yogyakarta ini diberi pakan berupa piasng, melon, nanas, bengkoang, jeruk, tomat dan kangkung pakan yang diberikan sebanyak 10% berat badan.
Meskipun namanya Jogja Orangutan Center, tetapi satwa yang dikonservasi di tempat ini tidak hanya orangutan saja, melainkan ada satwa-satwa lain seperti siamang, owa sumatra, owa kalimantan, kera ekor panjang, beruk, nuri bayan, elang bido, elang bondol, kakatua jambul kuning dan burung kasuari.
Siamang merupakan jenis primata yang berukuran cukup besar dengan ciri-ciri organ tubuh panjang yang mencapai 90 cm dengan berat badan 13 kg. Karena berat tubuhnya ini, siamang mudah bergerak dari satu ranting ke ranting lainnya. Siamang mampu bergerak dengan cepat menggunakan anggota tubuhnya seperti kedua tangan dan kedua kakinya. Di habitat aslinya, siamang memakan berbagai mcam buah-buahn yang dijumpai di lingkungannya dan beberapa daun dari tanaman buah-buahan serat tumbuhan yang lainnya. Di yayasan konservasi alam yogyakarta, siamang diberi makan berupa sayur-sayuran dan buah-buahan yang takarannya sesuai dengan berat bgadannya.
Binatang lainnya adalah owa Sumatra. Owa sumatra sangat mirip dengan Gibbon moloch yang berasal dari Jawa. Tubuhnya tertutup oleh mantel abu-abu sampai coklat, muka nampak berwarna kekuning-kuningan sampai coklat terangdi bagian lain berwarna hitam atau coklat terang, di atas mata tampak alis yang berwarna putih. Di habitat aslinya, satwa ini memakan buah-buahan dan juga daun dari pucuk daun tanaman, bahkan juga memakan insekta, laba-laba, burung, telur burung dan kadal. Di yayasan Konservasi Alam Yogyakarta diberi pakan berupa buah-buahan dan sayuran dengan kuantitas berat pakan 10% dari berat badan.

Hewan lainnya yaitu Owa Kalimantan. Satwa ini ditemukan di Kalimantan, sebagian Brunei Darussalam, dan sebagian Semenanjung Malaysia. Owa sangat lincah berayun dari satu dahan ke dahan lain, dan hidup pada kanopi hutan hujan tropis menggunakan lengan panjangnya serta jari-jari yang kuat.
Kera ekor panjang yang terdapat di Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta, merupakan satwa yang hidup berkelompok, ada induk jantan, betina dan anak-anaknya. Dalam memperoleh makanan, hewan ini selalu merubah daerah jelajahnya, tergantung ketersediaan pakan. Berbagau jenis pakan yang dimakan antara lain bagian dari tanaman seperti daun, buah, biji, dan bunga. Selain itu juga makan serangga, telur burung, kepiting, udang, kerang dan binatang lainnya.
Ordo primata lainnya yang dikonservasi di Jogja Orangutan Centre  adalah beruk. Hewan ini mempunyai ciri yang berbeda dengan macaca pada umunya. Tubuhnya berukuran sedang, tertutup oleh mantel berwarna coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan. Satwa ini hidup diatas pohon, perpindahan untuk mendapatkan pakan biasanya dilakukan di atas tanah. Di habitat aslinya memakan beberapa jenis makanan antara lain buah-buahan, biji-bijian, kuncup tanaman, insekta, mamalia kecil, juga memakan ikan.
Selain dari ordo primata, satwa lain yang dikonservasi di yayasan ini yaitu jenis unggas, salah satunya yaitu Nuri Bayan. Burung ini mahir memanjat karena struktur kakinya yang terdiri dari dua pasang jari kaki, yang sepasang menghadap menghadap ke depan dan yang lainnya menghadap ke belakang. Burung ini mempunyai ukuran tubuh yang besarburung Nuri Bayan betina berwarna merah sedangkan yang jantan berwarna hijau, dengan paruh kuning.
Jenis unggas lainnya adalah Elang Bido. √Člang ini secara keseluruhan berwarna coklat gelap, bintik-bintik putih pada sayap, dada, kepala bagian belakang. Elang Bido sering terlihat terbang melingkar diatas hutan dan perkebunan. Pada saat bercumbu, hewan ini memperlihatkan gerakan aerobic yang menakjubkan walaupun tidak terlalu gesit. Elang Bido mencari makan pada siang hari, biasanya memakan ulat, kadal, katak, invertebrata dan mamalia kecil. 

Jenis elang lainnya yang dikonservasi adalah Elang Bondol. Elang ini berukuran sedang, mempunyai panjang 45 cm, berwarna putih dan coklat pirang. Elang ini mencari mangsa pada siang hari dengan mengandalkan kejelian mata dan pendengaran. Burung ini mempunyai penglihatan yang sangat tajam sehingga mampu melihat jarak 100 meter seekor mangsa kecil. Mempunyai paruh bengkok yang tebal dan tajam. Paruh tersebut digunakan untuk merobek mangsanya. Memiliki sayap yang lebar dan bundar yang memberikan ketrampilan membelok ketika terbang di antara pohon.
Hewan lainnya yaitu Kakaktua Jambul Kuning. Burung ini berukuran panjang kira-kira  30 Cm, mempinyai jambil kining  bulu berwarna putih dan sering mengeluarkan suara rebut, mempunyai paruh  atas yang panjangnya melebihi paruh bawah, jambul akan ditegakkan  dan diturunkan bila sedang bersuara dan bertengger di pohon.Di habitatnya memakan biji-bijian, sayuran, buah-buahan dan serangga beserta  larvanya.
Penghuni lainnya, burung Kasuari,, merupakan burung paling besar  dari pada kelompok burung yang lainnya. Apabila berdiri tegak mempunyai tinggi 180  Cm, tetapi biasanya kepala diangkat setinggi 120 Cm dari tanah. Burung ini pandai berenang, satwa  ini suka berlari dan melompat, berslfat agresip dan galak terutama pada waktu melindungi telor dan anaknya. Kasuari bersifat soliter dan hanya berkumpul saat musim kawin saja, yang betina bersifat poliadri, dalam satu musim kawin mampu mendapatkan 3 pejantan.
Pertemuan IKAHI DIY diselenggarakan di konservasi alam kali ini memang unik, tempatnya bagus bisa untuk refreshing setelah jenuh dengan pekerjaan sehari-hari. Sebagai media belajar untuk mencintai lingkungan maupun alam termasuk satwa-satwanya, ujungnya kita  semakin menyadari bahwa Allah itu Maha Besar yang menciptakan alam dan sekitarnya. Demikian  kesan Hj. Endan Sri Murwati, SH. Ketua Ikahi DIY.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar